WALL·E (2008)

WALL·E [2008]

Director: Andrew Stanton
Cast: Ben Burtt, Elissa Knight, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard, John Ratzenberger, Kathy Najimy
Distributor: Walt Disney Pictures

…dan pengadilan memutuskan

WALL·E merupakan film animasi 3D kesembilan dari Pixar dan merupakan film animasi kedua yang disutradarai oleh Andrew Stanton setelah sukses dengan Finding Nemo. WALL·E bercerita mengenai Bumi yang pada abad ke 22 mengalami tingkat polusi yang sangat tinggi karena banyaknya sampah yang menyebabkan Bumi tidak lagi mampu mendukung adanya kehidupan diatasnya. Oleh karenanya, sebuah perusahaan Buy N Large mensponsori migrasi selama 5 tahun ke luar angkasa, dimana para manusia tinggal di sebuah kapal luar angkasa mewah bernama Axiom. Sedangkan untuk mengurus Bumi, Buy N Large telah menyediakan ratusan robot pembersih sampah yang diberi nama WALL·E (Waste Allocation Load Lifter Earth-Class). Namun ternyata sang presiden memutuskan Bumi terlalu beracun untuk ditinggali kembali, sehingga rencana awal tinggal di luar angkasa selama 5 tahun, berlanjut hingga 700 tahun kemudian. Di Bumi sendiri, sampah-sampah masih berserakan, sementara para robot WALL·E semuanya telah rusak, kecuali satu.

Film ini berlanjut menceritakan mengenai kehidupan WALL·E yang karena telah lama tinggal di atas Bumi, lama kelamaan belajar mengenai manusia dan mengumpulkan barang-barang memorable tentang manusia. Hingga datanglah EVE (Extraterrestrial Vegetation Evaluator), sebuah robot yang bertugas untuk mencari dan mendeteksi adanya tanaman di Bumi, sebagai kunci kepulangan kembali umat manusia ke Bumi. WALL·E, yang selama ini sendirian dan hanya ditemani seekor kecoa, merasa senang dengan datangnya EVE, sekaligus jatuh cinta kepadanya. Berdua, WALL·E dan EVE akan mengalami suatu petualangan yang akan menentukan nasib manusia di atas muka Bumi kelak.

Jika seandainya WALL·E bukanlah satu film yang disutradarai oleh Andrew Stanton, diproduseri oleh John Lasseter dan dihasilkan oleh Disney-Pixar, mungkin film ini tidak akan merebut perhatian banyak orang. Tema mengenai robot yang ditempeli dengan tema lingkungan hidup yang dibawanya memang adalah suatu barang baru di lingkungan film animasi. Bukan hanya itu, film ini menawarkan sedikit dialog yang mungkin akan membuat beberapa penonton bosan. Namun di sisi lain, kurangnya dialog di film ini akan memberikan kesempatan pada masing-masing penonton untuk mengartikan sendiri tiap adegan yang mereka tonton. 

Sebagaimana film Pixar yang lain, masalah visual adalah suatu hal yang sepertinya tidak perlu dipersoalkan. Pixar selalu memberikan terobosan terbaru dalam hal animasi komputer dalam tiap film rilisannya, termasuk WALL·E. Lihat bagaimana Pixar menggambarkan kelam dan kotornya Bumi, serta gambaran keindahan luar angkasa ketika WALL·E dan EVE sedang dalam perjalanan menuju Axiom. Tidak hanya itu, komposer Thomas Newman memberikan score music yang paling menyentuh dari seluruh film Pixar yang pernah ada. Beberapa scene dalam film ini memberikan suasana bagaikan sedang menonton sebuah film drama romantis, dan hal tersebut memberikan poin tambahan lagi untuk WALL·E

Jika WALL·E adalah sebuah resep, maka ia dapat digambarkan sebagai sebuah film animasi, yang dipadukan dengan kekuatan visual terbaik dari sebuah film science-fiction, dengan penambahan aroma dari sebuah film komedi romantis paling menyentuh yang pernah ada, sedikit penyedap pesan-pesan moral mengenai masalah ekologi, dan dibungkus dengan sebuah sentuhan klasik ala film Disney yang selalu memberikan rasa heartwarming bagi tiap penontonnya. Dan semua hal tersebut, menjadikan WALL·E adalah sebuah film terobosan baru yang akan membuat setiap pencinta Pixar penasaran bagaimana mereka akan membuat film yang lebih bagus dari rilisan mereka tahun ini… dan sekaligus menempatkan WALL·E sebagai film terbaik sepanjang tahun 2008.

Rate: 5 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 11:58 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Requiem (2006)

Requiem [2006]

Director: Hans-Christian Schmid
Cast: Sandra Hüller, Burghart Klaußner, Imogen Kogge, Anna Blomeier, Nicholas Reinke, Jens Harzer, Walter Schmidinger
Distributor: 23/5 Filmproduktion GmbH

…dan pengadilan memutuskanRequiem adalah film rilisan Jerman karya sutradara Hans-Christian Schmid yang mendasarkan ceritanya pada kisah nyata mengenai proses pengusiran setan dari tubuh seorang gadis bernama Anneliese Michel, yang berakhir dengan kematiannya. Terdengar seperti The Exorcism of Emily Rose? Itu karena kedua film ini mendasarkan ceritanya pada satu kisah nyata yang sama. Namun, berbeda dengan The Exorcism of Emily Rose yang bergenre horror, Requiem lebih mendasarkan pada genre drama, dan bercerita seperti layaknya sebuah film dokumenter, yang menceritakan hari-hari sang gadis dari memasuki bangku kuliah hingga proses pengusiran setan di tubuhnya. Beberapa orang yang berekspekstasi akan banyaknya adegan horror di film ini akan sangat kecewa. Tidak ada satupun adegan “penampakan” atau tingkah laku sang gadis yang memperlihatkan kalau dia sedang kemasukan. Apalagi film ini dijejali dengan sejarah medis sang gadis yang pernah mengidap epilepsi. Hanya keyakinan sang gadis, yang ditunjukkannya dengan tidak bisanya ia memegang salib, yang menunjukkan kalau ia sedang kemasukan. Gaya penceritaan yang setahap demi setahap, dengan kata lain: lambat, juga mungkin akan menghambat beberapa orang untuk menikmati film ini. Overall, Requiemmemberikan sebuah sudut pandang berbeda dari suatu kejadian mistis. Mungkin berhasil pada beberapa orang… namun kemungkinan besar akan gagal pada banyak orang.

Rate: 3.5 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 11:55 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Nim’s Island (2008)

Nim’s Island [2008]
Director: Jennifer Flackett/Mark Levin
Cast: Abigail Breslin, Jodie Foster, Gerard Butler
Distributor: 20th Century Fox

…dan pengadilan memutuskanNim’s Island adalah sebuah film adventure keluarga (baca: anak-anak) berdasarkan buku karangan Wendy Orr berjudul sama. Nim’s Island bercerita mengenai petualangan Nim (Breslin) di sebuah pulau tak berpenghuni bersama ayahnya (Butler) yang seorang peneliti. Petualangan seorang diri dimulai ketika ayahnya, yang sedang pergi berlayar, hilang selama beberapa hari. Dari sisi cast, trio Breslin-Foster-Butler tampil cukup memikat, walaupun ketiganya jarang berbagi layar bersama. Bahkan tokoh yang diperankan Foster baru akan bertemu Nim pada kira-kira 30 menit menjelang film berakhir. Jodie Foster membuktikan kapabilitas dirinya sebagai aktris serba bisa dengan tampil rileks dan sedikit komikal untuk perannya kali ini. Sementara aktor Gerard Butler harus memainkan dua tokoh, sang ayah dan sang petualang imajiner, Alex Rover. Overall, seperti halnya The Spiderwick ChroniclesNim’s Island adalah sebuah film family-oriented yang cukup menyenangkan untuk disaksikan. 

Rate: 3.5 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 11:52 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Hostel: Part II (2007)

Hostel: Part II [2007]

Director: Eli Roth
Cast: Lauren German, Bijou Phillips, Heather Matarazzo, Jay Hernandez, Jordan Ladd, Roger Bart, Vera Jordanova, Richard Burgi, Stanislav Ianevski
Distributor: Lionsgate/Screen Gems

…dan pengadilan memutuskan: Orang-orang yang berhasil menonton Hostel sampai selesai, tanpa melewatkan satu scene pun, dan berbangga hati dengan mengatakan mereka sangat menikmati film tersebut mungkin harus segera berpikir untuk memeriksakan diri mereka ke seorang ahli jiwa. Orang-orang yang berhasil menontonHostel sampai selesai, tanpa melewatkan satu scene pun, dan berbangga hati dengan mengatakan mereka sangat menikmati film tersebut dan kemudian melanjutkannya dengan menonton Hostel: Part II dan masih merasa kalau film ini adalah sesuatu yang enjoyable, dan menantikan seri ketiga film “sakit” tersebut, mungkin harus melewatkan segera melewatkan sehari di sebuah institusi mental terdekat. Yup… that includes me. That’s how I explain about the sadisctic views on these movies. Jika seri pertama menekankan penuh pada genre torture porn dengan sepenuh hati, maksud saya disini adalah dengan meletakkan betul-betul berbagai unsur porn yang dipadu dengan unsur penyiksaan, maka Hostel: Part II mengurangi unsur porn (booo…) tetapi, sayangnya, juga kehilangan (sedikit) unsur sadisnya. Anyway, tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai film ini. Cukup banyak masih sama seperti film pertama, namun dengan korban yang difokuskan pada para wanita. Bagi para penggemar thriller yang berharap sebuah film akan menantang adrenalin mereka, film ini memang untuk Anda. Bagi para anak-anak, orang-orang yang memiliki penyakit jantung dan para aktivis perempuan… please… stay away from this movie, sweetheart.

Rate: 2 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 11:47 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

The Jane Austen Book Club (2007)

The Jane Austen Book Club [2007]

Director: Robin Swicord
Cast: Maria Bello, Emily Blunt, Kathy Baker, Amy Brenneman, Maggie Grace, Hugh Dancy, Kevin Zegers, Jimmy Smits, Lynn Redgrave, Nancy Travis
Distributor: Sony Pictures Classics

…dan pengadilan memutuskanThe Jane Austen Book Club adalah film yang mengadaptasi cerita novel berjudul sama karya Karen Joy Flower yang diterbitkan pada tahun 2004. Mengisahkan mengenai lima orang wanita, dan seorang pria, yang membentuk suatu perkumpulan membaca, book club, dan memutuskan untuk membahas buku-buku karangan Jane Austen. Tanpa disadari, masing-masing anggota book club ternyata menghadapi persoalan yang sama dengan yang dihadapi tiap karakter di novel-novel Jane Austen. Menonton film ini seperti sedang mempelajari dan mendalami setiap karya yang dihasilkan Jane Austen. Tidak rumit, tapi sedikit membingungkan juga melihat para tokoh di film ini membicarakan para karakter di novelnya Jane Austen, sementara kita sendiri belum membaca novel yang dimaksud. Dari sisi cast, sama sekali tidak ada masalah. Para cast yang terdiri dari aktris senior seperti Kathy Baker, Maria Bello mampu membaur dan membentuk chemistry yang pas dengan aktor/aktris muda seperti Emily Blunt dan Kevin Zegers. Overall, film ini layak untuk ditonton sebagai hiburan… plus menambah pengetahuan sastra, khususnya tentang karya-karya Jane Austen.

Rate: 4 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 11:43 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Prom Night (2008)

Prom Night [2008]

Director: Nelson McCormick
Cast: Brittany Snow, Scott Porter, Jonathan Schaech, Jessica Stroup, Idris Elba
Distributor: Screen Gems/Newmarket Films/Original Film/Sony Pictures

…dan pengadilan memutuskan: Semenjak Scream, sebuah film slasher bertema remaja, yang fenomenal itu, begitu banyak film-film thriller lain yang mengikuti jejaknya. Padahal Scream sendiri bukanlah film pertama yang memberikan tema tersebut. Dan sayangnya, film-film bertema sama yang datang sesudah Scream, kebanyakan mempunyai kualitas yang lebih rendah dari Scream. Dan Prom Night adalah salah satunya. Menyaksikan Prom Night seperti menyaksikan sebuah film drama tentang bagaimana besarnya arti prom night bagi kebanyakan remaja di US sana, dengan tempelan beberapa scenes horror. Sayangnya, “tempelan” horror tersebut tidak berarti banyak. Bahkan sepertinya sebuah ide yang bagus jika semua adegan horror dihilangkan, dan mengganti genre film ini menjadi sebuah film drama remaja. Tidak seperti Scream yang menyimpan misteri siapa pembunuh sebenarnya hingga akhir film, sejak awal film, Prom Night telah menunjukkan siapa sang pembunuh di film tersebut. Untungnya, sang aktris utama, Brittany Snow, memberikan penampilan yang tidak menyebalkan. Anyway, if you’re a true fan horror, please… watch something better than this one. Totally not a recommended one…

Rate: 2.5 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 11:34 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007)

The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford [2007]

Director: Andrew Dominik
Cast: Brad Pitt, Casey Affleck, Mary-Louise Parker, Sam Shepard, Sam Rockwell, Hugh Ross (narrator)
Distributor: Warner Bros.

…dan pengadilan memutuskan

The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford menceritakan mengenai terbunuhnya Jesse James, seorang perampok legendaris yang dianggap sebagai Robin Hood-nya Amerika, oleh Robert Ford, yang sebenarnya adalah anggota tim perampok James. Diadaptasi dari novel Robert Hansen yang terbit tahun 1983 berjudul sama, film ini disutradarai oleh Andrew Dominik. 

Film ini sebenarnya mempunyai potensi besar untuk “menidurkan” para penontonnya. Dengan jalan cerita yang lambat dan minim aksi (walau tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali), akan susah bagi penonton awam untuk mencerna dan mengikuti film berdurasi 160 menit ini. Namun untungnya, sutradara Andrew Dominik berhasil menciptakan suatu penggambaran yang mengalir selama menceritakan kisah hidup Jesse James, orang-orang di sekitarnya serta kematiannya, sehingga penonton dapat mengikuti dengan mudah jalan cerita film ini. 

Faktor keunggulan lain adalah sinematografi arahan Roger Deakins yang mampu menangkap alam liar Amerika di abad 19 dan iringan score garapan Nick Cave dan Warren Ellis yang menyentuh. Ditambah lagi akting para cast yang sangat menjiwai perannya. Special credit goes to Mr. Baby Affleck aka Casey Affleck untuk penggambarannya yang sangat dramatis atas seorang Robert Ford, seorang yang mempunyai jiwa pengecut namun selalu menunjukkan kepercayaan diri pada orang-orang sekitarnya, sekaligus menaruh dendam karena selalu dianggap remeh. Saksikan di scene menit-menit menjelang terbunuhnya Jesse James, bagaimana Affleck dapat menggambarkan bagaimana ketakutannya Robert Ford ketika James telah mengetahui kalau Dick Liddle sebenarnya telah ditahan tiga minggu sebelumnya. An absolutely terrific scene!

Hal yang mungkin membuat film ini kekurangan peminat adalah scene atau cerita yang menghubungkan antara penonton dan film. Lihat Titanic, film yang sebenarnya berdurasi lebih panjang, namun dicintai semua orang karena faktor rasa kedekatan antara penonton dan sebuah film atau cerita. Tapi bagaimanapun, 160 menit The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford adalah menit-menit dramatis, yang dapat menghapus segala ekspekstasi kalau film ini adalah film yang sangat membosankan. The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford is the Titanic of all modern western movies.

Rate: 4.5 / 5

The Spiderwick Chronicles (2008)

The Spiderwick Chronicles [2008]

Director: Mark Waters
Cast: Freddie Highmore, Sarah Bolger, Mary-Louise Parker, Martin Short, Nick Nolte, David Strathairn, Joan Plowright, Seth Rogen, Andrew McCarthy
Distributor: Nickelodeon Movies/Paramount Pictures

…dan pengadilan memutuskan: Semenjak kemunculan trilogy The Lord of The Rings dan serial adaptasi Harry Potter, sepertinya film-film bergenre fantasy mempunyai sebuah standar yang baru bagi para penonton film. Standar yang tinggi. Hal inilah mungkin yang membuat film-film, yang sebenarnya bagus, seperti Stardust danThe Golden Compass, tidak begitu berhasil di pasaran. Anyway, The Spiderwick Chronicles termasuk salah satu yang bergenre fantasy movie. Diadaptasi dari novel karya Holly Black dan Tony DiTerlizzi oleh sutradara Mark Waters (Mean GirlsFreaky Friday), film ini melibatkan banyak nama besar seperti Freddie Highmore, David Strathairn, Mary Louise-Parker, Nick Nolte, yang kemunculannya hanya beberapa menit itu, termasuk komposer James Horner yang membuat score untuk film ini. Hasilnya? Well… walaupun, seperti nasib film-film diluar The Lord of The Rings dan serial Harry Potter, masih berkualitas sederhana, The Spiderwick Chronicles sebenarnya cukup berhasil, apalagi bila pangsa pasar sebenarnya dari film ini adalah para anak-anak dan remaja. Bintang utama film ini adalah Freddie Highmore, yang sedikit mengingatkan akan akting Lindsay Lohan dalam The Parent Trap, karena dalam film ini, Highmore juga memerankan dua peran sekaligus, sepasang kembar. Walaupun sepertinya tokoh Jared yang lebih sering diekspos daripada pasangan kembarnya, simon. Overall, The Spiderwick Chronicles mungkin tidak akan terlalu berkesan bagi para penonton. Namun film ini lumayan menghibur sepanjang 97 menit penayangannya.

Rate: 4 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 10:50 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Persepolis (2007)

Persepolis [2007]

Director: Marjane Satrapi & Vincent Paronnaud
Cast: Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve, Danielle Darrieux, Simon Abkarian
Distributor: Sony Pictures Classics

…dan pengadilan memutuskan:

Satu film yang banyak diagungkan para kritik, atas nama kebebasan menyuarakan pendapat dan berkreasi, adalah film animasi karya sutradara asal Iran, Marjane Satrapi, yang berjudul Persepolis. Cerita film ini sendiri diadaptasi dari grafik novel karya Satrapi yang mengisahkan tentang masa pertumbuhannya dari kecil di negara Iran, ketika sedang menghadapi revolusi Iran, yang semula diduga banyak penduduknya akan membawa kebebasan, namun malah jatuh ke arah tirani yang lebih parah dari kekuasaan sebelumnya (sounds familiar, don’t ya think?).

Well… honestly, film ini (sama sekali) tidak akan menghibur bagi Anda yang mencari hiburan dalam dunia animasi. Isi film yang kompleks, sedikit provokatif mengenai “kebencian” tokoh Marjane mengenai aturan-aturan ketat a la Islam di negaranya, hingga petualangannya dalam melarikan diri dari cengkraman perang yang berlarut-larut di negara asalnya, akan membuat para penontonnya banyak berpikir selama film ini berputar.Persepolis sama sekali tidak dianjurkan bagi Anda yang merasa beraliran fundamentalis atau sedikit sulit dalam menerima kritikan dari sisi agama, hal yang membuat pemerintah Iran melarang peredaran film ini disana.

Overall, Persepolis dapat berlaku dengan baik sebagai sebuah film politis yang sarat akan pesan sosial. Namun jika yang Anda cari adalah sisi hiburan, film bernuansa hitam-putih ini malah mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan depresi bagi para penontonnya.

Rate: 3.5 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 9:31 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Love in the Time of Cholera (2007)

Love in the Time of Cholera [2007]

Director: Mike Newell
Cast: Giovanna Mezzogiorno, John Leguizamo, Laura Harring, Benjamin Bratt, Javier Bardem, Fernanda Montenegro, Catalina Sandino Moreno, Hector Elizondo, Liev Schreiber
Distributor: New Line Cinema

…dan pengadilan memutuskan

Berapa lama Anda akan menunggu seseorang yang Anda anggap sebagai belahan jiwa Anda? Florentino Ariza telah menunggu lebih dari 50 tahun untuk menyampaikan kembali cintanya kepada seorang wanita yang sangat dicintainya, namun menolaknya karena ketidaksetujuan ayahnya. Dalam jangka waktu tersebut, ia telah melewati wabah kolera yang melanda desanya, perang saudara, sakit hatinya kepada sang wanita, dan… mengencani sebanyak 623 wanita, yang dia anggap sebagai pelarian atas rasa sakit hatinya. 

Love in the time of Cholera diangkat dari sebuah novel masterpiece, salah satu yang paling banyak dipuji kritikus, karya pemenang Nobel, Gabriel Garcia Márquez. Saya sama sekali belum membaca novelnya. Walau begitu, jika ingin membandingkan film ini dengan novelnya yang universal-critically acclaimed itu, sepertinya telah terlihat jelas. Film ini jauh dibawah kualitas sang novel. Penulisan naskah yang dangkal, diperlihatkan pada sang tokoh utama yang mengencani ratusan wanita tersebut. Tidak adanya penjelasan kenapa ia harus mengencani wanita-wanita tersebut menyebabkan penonton sama sekali kehilangan simpati pada tokohnya. 

Sejam pertama film ini adalah jam terbaiknya, sebelum memasuki masa “perjalanan panjang” di tengah film. Untungnya, walaupun sedikit terlambat, pada 20 menit terakhir, film ini membaik dan sangat menyentuh. Dari sisi akting, tidak ada yang istimewa, walaupun mengagumkan melihat akting seorang Javier Bardem yang begitu dingin dan tidak berperasaannya sebagai Anton Chigurh yang memorable itu di film No Country for Old Men, namun begitu hangat, bernafsu dan sensitif sebagai Florentino Ariza pada film ini. Poin tambahan untuk film ini adalah music score-nya, yang dibuat oleh Antonio Pinto, yang begitu romantis, disertai beberapa lagu yang ditulis dan dinyanyikan Shakira yang begitu menyentuh.

Overall, Love in the Time of Cholera yang panjang dan (seharusnya) romantis ini mungkin bukan untuk santapan semua orang. But still… buat mereka yang merasa romantis, dan tergila-gila dengan kisah mengenai mempertahankan cinta sampai kapanpun, maka Love in the Time of Cholera mungkin dapat menjadi satu tontonan alternatif. 

Rate: 3.5 / 5

Published in: on November 23, 2008 at 9:25 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.